Selamat Datang di Webblog MEDIA PEMBELAJARAN PGSD/A 2010
Tampilkan postingan dengan label Dongeng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dongeng. Tampilkan semua postingan

Seekor Anjing, Ayam Jantan dan Rubah

Seekor anjing dan seekor ayam jantan yang berteman akrab, berharap bahwa satu saat mereka akan dapat berkeliling dunia dan menemukan petualangan baru. Sehingga mereka kemudian memutuskan untuk meninggalkan tanah pertanian dan melakukan perjalanan keliling dunia melalului sebuah jalan yang menuju ke hutan. Kedua sahabat itu berjalan bersama dengan semangat dan tidak bertemu dengan petualangan yang mereka sering bicarakan.
Pada malam hari, ayam jantan, mencari tempat untuk bertengger seperti kebiasaannya, dia melihat sebuah pohon yang berlubang dan dipikirnya pohon tersebut sangat baik untuk dijadikan tempat menginap. Sang anjing dapat menyelinap ke  dalam lubang pohon tersebut dan sang ayam dapat terbang ke atas salah satu dahan pohon tersebut. Keduanya lalu tertidur dengan nyenyak di pohon tersebut.
Disaat fajar mulai menyingsing, ayam jantan tersebut terbangun dan sejenak dia lupa dimana dia berada. Dia mengira dirinya masih di tanah pertanian dimana tugasnya adalah membangunkan seisi rumah pada pagi hari. Sekarang dengan berdiri diatas jari kakinya, dia mengepakkan sayapnya dan berkokok dengan semangat. Tetapi bukannya petani yang terbangun mendengar dia berkokok melainkan dia membangunkan seekor rubah yang tidur tidak jauh dari pohon tersebut. Rubah tersebut dengan cepat melihat ke arah ayam tersebut dan berpikir bahwa dia mendapatkan sarapan pagi yang sangat lezat. Dengan cepat dia mendekati pohon dimana ayam jantan bertengger, dan berkata dengan sopan:
"Selamat datang di hutan kami, tuanku yang agung. Saya tidak dapat berbicara bagaimana senangnya saya bertemu dengan anda di tempat ini. Saya merasa yakin bahwa kita akan menjadi teman baik."
"Saya merasa tersanjung, tuan yang baik." kata ayam jantan tersebut dengan malu-malu. "Jika kamu memang mau, pergilah ke pintu rumahku di bawah pohon ini, pelayanku akan membiarkan kamu masuk."
Rubah yang sedang lapar itu tidak mencurigai apapun, berjalan ke arah lubang dibawah pohon tersebut seperti yang disuruhkan, dan dalam sekejap mata anjing yang tadinya tidur di dalam lubang pohon itu menyergapnya.
Siapa yang akan menipu, akan menerima akibatnya sendiri.




sumber: link

Perempuan Tua dan hantu Jadi-jadian

Dahulu kala ada seorang wanita tua yang sangat-sangat gembira dan selalu penuh dengan sukacita, walaupun hampir tidak memiliki apa-apa, dan dia sudah tua, miskin dan tinggal sendirian. Dia tinggal di sebuah pondok kecil dan menghidupi dirinya dengan membantu tetangganya mengantarkan pesanan, dia hanya mendapatkan sedikit makanan, sedikit sup sebagai upahnya. Dia selalu giat bekerja dan selalu terlihat.
Disuatu sore, di musim panas, ketika dia  berjalan pulang ke rumahnya, dengan penuh senyuman seperti biasanya, dia menemukan sebuah pot hitam yang besar tergeletak di tanah!
"Oh Tuhan!" katanya, "Pot ini akan menjadi tempat yang bagus untuk menyimpan sesuatu apabila saya mempunyai apa-apa yang dapat disimpan disana! Sayangnya saya tidak memiliki apa-apa! Siapa yang telah meletakkan pot ini disini?"
Kemudian dia melihat ke sekeliling berharap bahwa pemiliknya tidak jauh dari sana, tapi dia tidak melihat siapapun disana.
"Mungkin pot ini memiliki lubang," katanya lagi,"dan karena itulah pot ini dibuang. Tapi pot ini akan sangat bagus bila saya meletakkan setangkai bunga dan menaruhnya di jendela rumahku, saya akan membawanya pulang."
Dan ketika dia mengangkat tutupnya dan melihat ke dalam. "Ya ampun!" teriaknya dengan terkagum-kagum. "Penuh dengan emas. Betapa beruntungnya saya!"
Di dalam pot tersebut dilihatnya tumpukan koin emas yang berkilap. Saat itu dia begitu terpana dan tidak bergerak sama sekali, kemudian akhirnya dia berkata
"Saya merasa sangat kaya sekarang, benar-benar kaya raya!"
Setelah dia mengucapkan kata-kata ini beberapa kali, dia mulai berpikir bagaimana dia dapat membawa harta karun itu kerumahnya. Pot berisi emas itu begitu berat untuk dibawa, dan dia tidak menemukan cara yang baik selain mengikat pot itu pada ujung selendangnya dan menariknya sampai ke rumah.
"Sebentar lagi hari akan menjadi gelap," katanya sendiri dan mulai berjalan. "Ah.. sekarang lebih baik! karena tetanggaku tidak akan melihat apa yang saya bawa pulang ke rumah, dan saya bisa sendirian saja sepanjang malam, memikirkan apa yang saya akan lakukan dengan emas ini! mungkin saya akan membeli rumah yang besar dan duduk-duduk di perapiannya sambil menikmati secangkir teh dan tidak bekerja lagi seperti seorang Ratu. Atau mungkin saya akan mengubur emas ini di taman dan meyimpan sedikit emas ini di teko tua ku, atau mungkin .. wah.. wah.. saya merasa tidak mengenal diri saya sekarang."
Sekarang dia merasa lelah karena menarik pot yang berat itu,  berhenti sejenak untuk beristirahat, dan berbalik melihat ke hartanya.
Dan dilihatnya pot itu tidak berisi emas, tapi hanya tumpukan koin perak di dalamnya.
Dia menatap pot itu dan menggosok matanya, dan menatap kembali.
"Saya berpikir bahwa pot tadi berisi emas! Saya mungkin bermimpi. Tapi ini adalah keberuntungan! Perak lebih tidak menyusahkan, gampang di pakai, dan tidak mudah dicuri. Koin emas mungkin membawa kematian untuk saya, dan dengan setumpuk koin perak ini..."
kemudian dia berjalan lagi sambil memikirkan apa yang harus dilakukannya, dan merasa seperti orang kaya, hingga akhirnya dia keletihan lagi dan berhenti beristirahat dan menengok kembali apakah hartanya masih aman; dan saat itu dia tidak melihat perak, melainkan setumpuk besi!
"Saya menyangka pot itu berisi perak! saya pasti bermimpi, Tapi ini adalah keberuntungan! sungguh menyenangkan. Saya dapat menjual dan mendapatkan satu penny untuk satu besi tua ini, dan satu penny lebih gampang di bawa dan di atur dibandingkan emas dan perak. Mengapa! karena saya tidak harus tidur dengan gelisah karena takut di rampok. Tapi satu penny betul-betul dapat berguna dan saya seharusnya menjual besi-besi itu dan menjadi kaya, benar-benar kaya."

kemudian dia berjalan lagi sambil memikirkan apa yang harus dilakukannya dengan uang penny nya nanti, hingga sekali lagi dia berhenti beristirahat dan menengok kembali apakah hartanya masih aman; dan kali ini dia tidak melihat apa-apa selain batu-batu besar dalam pot itu.
"Saya menyangka pot itu berisi bersi! saya pasti bermimpi, Tapi ini adalah keberuntungan! karena saya sudah lama menginginkan batu besar untuk menahan agar pintu pagar saya tetap terbuka. Sungguh hal yang baik memiliki keberuntungan."
Dia menjadi sangat ingin melihat bagaimana batu itu nanti bisa menahan pintu pagarnya agar selalu terbuka, dia akhirnya berjalan terus hingga tiba di pondoknya. Dia membuka pintu pagarnya, berbalik untuk melepaskan selendangnya dari batu besar yang tergeletak di belakangnya. Tetapi apa yang dilihatnya bukanlah batu besar, melainkan serpihan-serpihan batu.
Sekarang dia membungkuk dan melepaskan ujung selendangnya, dan - "Oh!" Tiba-tiba dia terlonjak kaget, sebuah jeritan, dan mahkluk yang sebesar tumpukan jerami, dengan empat kaki yang panjang dan dua telinga yang panjang, memiliki ekor panjang, menendang-nendang ke udara sambil memekik dan tertawa seperti anak yang nakal!
Wanita tua itu memandangnya sampai makhluk itu menghilang dari pandangan, kemudian akhirnya perempuan itu tertawa juga.
"Baiklah!" katanya sambil tertawa, "Saya beruntung! Cukup beruntung. Sungguh senang bisa melihat hantu jadi-jadian dengan mata kepala sendiri, dan bebas darinya juga! Ya Tuhan, saya merasa sangat bahagia!"
Kemudian dia masuk ke pondoknya dan tertawa sepanjang malam membayangkan kejadian tadi dan merasa betapa beruntungnya dia hari ini.





sumber: link

Kura-kura dan Sepasang Itik

Seekor kura-kura, yang kamu tahu selalu membawa rumahnya di belakang punggungnya, dikatakan tidak pernah dapat meninggalkan rumahnya, biar bagaimana keras kura-kura itu berusaha. Ada yang mengatakan bahwa dewa Jupiter telah menghukum kura-kura karena kura-kura tersebut sangat malas dan lebih senang tinggal di rumah dan tidak pergi ke pesta pernikahan dewa Jupiter, walaupun dewa Jupiter telah mengundangnya secara khusus.
Setelah bertahun-tahun, si kura-kura mulai berharap agar suatu saat dia bisa menghadiri pesta pernikahan. Ketika dia melihat burung-burung yang beterbangan dengan gembira di atas langit dan bagaimana kelinci dan tupai dan segala macam binatang dengan gesit berlari, dia merasa sangat ingin menjadi gesit seperti binatang lain. Si kura-kura merasa sangat sedih dan tidak puas. Dia ingin melihat dunia juga, tetapi dia memiliki rumah pada punggungnya dan kakinya terlalu kecil sehingga harus terseret-seret ketika berjalan.
Suatu hari dia bertemu dengan sepasang itik dan menceritakan semua masalahnya.
"Kami dapat menolongmu untuk melihat dunia," kata itik tersebut. "Berpeganglah pada kayu ini dengan gigimu dan kami akan membawamu jauh ke atas langit dimana kamu bisa melihat seluruh daratan di bawahmu. Tetapi kamu harus diam dan tidak berbicara atau kamu akan sangat menyesal."
Kura-kura tersebut sangat senang hatinya. Dia cepat-cepat memegang kayu tersebut erat-erat dengan giginya, sepasang itik tadi masing-masing menahan kedua ujung kayu itu dengan mulutnya, dan terbang naik ke atas awan.
Saat itu seekor burung gagak terbang melintasinya. Dia sangat kagum dengan apa yang dilihatnya dan berkata:
"Kamu pastilah Raja dari kura-kura!"
"Pasti saja......" kura-kura mulai berkata.
Tetapi begitu dia membuka mulutnya untuk mengucapkan kata-kata tersebut, dia kehilangan pegangan pada kayu tersebut dan jatuh turun ke bawah, dimana dia akhirnya terbanting ke atas batu-batuan yang ada di tanah.
Rasa ingin tahu yang bodoh dan kesombongan sering menyebabkan kesialan.


Sumber: link

Kepiting Muda dan Ibunya

"Mengapa kamu berjalan ke arah samping seperti itu?" tanya ibu kepiting kepada anaknya. "Kamu harus berjalan lurus ke depan dengan jari-jari kaki yang menghadap keluar."
"Perlihatkanlah saya cara berjalan yang baik bu," kata kepiting kecil itu kepada ibunya, "Saya sangat ingin belajar."
Mendengar kata anaknya, ibu kepiting tersebut mencoba untuk berjalan lurus ke depan. Tetapi dia hanya bisa juga berjalan ke arah samping, seperti cara anaknya berjalan. Dan ketika ibu kepiting tersebut mencoba untuk memutar jari-jari kakinya ke arah luar, dia malah tersandung dan terjatuh ke tanah dengan hidung terlebih dahulu.
Jangan menjelaskan bagaimana orang harus bertindak kecuali kamu dapat memberikan contoh yang baik.





Sumber: Link

Itik Yang Buruk Rupa

Itik dilahirkan sempurna. Setelah sembilan bulan lebih beberapa hari dikandung di rahim sang ibu. Itik jadi pujaan keluarga besarnya karena ia cucu pertama. Itik dilimpahi kasih dan hidup dalam baluran tawa bahagia. Tapi beberapa tahun kemudian cucu selanjutnya lahirlah, dan itik tidak lagi jadi terlalu istimewa. Itik belum mengerti pada saat itu.Itik kecil senang berlari riang gembira kesana kemari. Tidak kenal perih. Tidak kenal sakit hati. Itik kecil selalu merasa berlebih. Berdiri dengan bangga. Mengambil perhatian teman teman seusianya, diinginkan kehadirannya dalam tiap ekspedisi mereka mulai dari mencari serangga hingga menciptakan rumah boneka. Dia tidak memikirkan yang lain lainnya, hanya merasa bahagia. Ayah ibunya mencintainya. Adiknya yang masih bayi jadi kebanggannya. Dia bahagia.Tapi bahkan kanak kanak tidak selamanya hatinya murni dan tidak bernoda. Memasuki masa remajanya itik melihat teman teman lelakinya satu persatu jadi berbeda, dan teman teman perempuannya mulai bermetamorfosa. Mereka jadi seperti angsa! Putih, cantik, anggun, mempesona. Angsa-angsa yang membuat lawan jenisnya memilih mereka. Angsa-angsa yang bisa terbang kesana kemari dengan bangga.Itik masih juga itik. Itik yang buruk rupa. Teman teman lelakinya tidak pernah ada yang meliriknya. Saat para gadis gadis angsa lainnya terkikik kikik membicarakan soal cinta pertamanya, itik diam dan mulai terasing. Ayah ibunya pun mulai berbeda. Mereka mulai tidak saling bicara, dan tidak menegurnya. Mereka sibuk berpisah sendiri sendiri. Itik tidak tahu dia ada dimana. Apakah ada di tengah. Apakah bahkan tidak ada dalam lingkaran lingkaran yang pesat berputar di sekelilingnya. Memasuki masa remaja akhir itik buruk rupa semakin merasa ada yang salah. Di tengah orang orang yang katanya sahabatnya itik merasa sangat berbeda. Mereka dan dia tidak sama! Mereka tidak akan pernah mengerti dirinya. Mereka yang angsa dan selalu dipilih para lelaki. Mereka yang tidak pernah sendiri. Mereka yang lahir dari dua angsa jantan dan betina yang tidak akan pernah terpisahkan dan berlawanan. Itik buruk rupa jadi murka. Kehidupan tidak pernah berpihak padanya. Itik memulai memusuhi sahabatnya dalam diamnya. Itik mulai sering memperlihatkan temperamen buruknya dan mengamuk ngamuk bagaikan itik buruk rupa yang menggeliat berkecipak. Hal yang tidak akan pernah dilakukan para angsa. Itik benci melihat kaca. Itik benci melihat pantulan dirinya yang selalu saja buruk rupa. Itik memang berbeda. Dia tau itu dan tidak bisa merubahnya. Itik merasa tidak diterima. Satu hari kehidupan mulai memberi celah buat itik. Ada seseorang yang katanya datang buatnya. Itik bahagia. Sesaat itik merasa bahwa mungkin sekarang dia sudah jadi angsa, karena akhirnya orang itu memilihnya. Tapi ternyata orang itu pergi lagi. Dan bukan hanya sekali. Berkali kali. Itik muak. Itik buruk rupa ingin berhenti dan menyepi dalam keitikan dan keburukrupaan. Itik mencela sahabatnya yang pernah berkata dulu kala padanya bahwa suatu hari akan tiba waktunya ada seseorang yang tidak akan melihatnya sebagai itik yang merasa buruk rupa, tapi sebagai diri manusia apa adanya. Itik kecewa. Yang dinantinya takkan tiba.Itik buruk rupa coba lanjutkan kehidupannya. Sebagai itik. Itik yang ada di luar lingkaran. Itik buruk rupa yang tidak akan pernah jadi angsa. Itik buruk rupa yang berbeda. Itik yang tidak mau peduli pada dunia. Itik yang memilih jalannya sendiri.Tapi hari itu itik bertemu. Dengan dia, yang bukan itik, bukan angsa, tetap manusia biasa, tapi dia juga berbeda. Sama sama tidak merasa bagian dari lingkaran mana juga. Sama sama tidak akan pernah jadi mereka. Sama-sama seperti si itik buruk rupa. Itik merasa memahami, dan anehnya buat pertama kalinya, dipahami. Tapi dia tidak menolak dunia, dia jadi bagiannya, dalam bedanya. Dia tidak merasa murka, dia cuma tetap menjadi dirinya. Dia yang beda.Untuk pertama kalinya itik sadar. Selamanya itik tidak akan pernah jadi angsa. Selamanya dia akan jadi itik. Mungkin selamanya itik tidak akan pernah bisa jadi sesuai apa yang sebenarnya diharapkan mereka darinya. Dia cuma itik. Tapi dia tidak sedemikiannya buruk rupa. Dia cuma berbeda. Dan tidak ada yang dosa dengan jadi berbeda. Tidak ada salahnya. Dia hanya perlu lebih mencintai dirinya yang berbeda, dan kemudian dia akan jadi sama dengan angsa angsa yang dikaguminya, berharga.Itik dan dia yang juga berbeda berjalan bersama dalam beda. Dua yang sama sekali bukan angsa dan tidak akan pernah jadi angsa. Itik tidak terlalu peduli arahnya kemana. Tapi itik tahu bahwa jalannya sudah benar. Itik sudah bisa menerima dirinya.Itik yang sama sekali tidak buruk rupa itu bahagia.